oppiwcomel
guyss aku mau cerita di sini,dikit doang kok,di baca yaa.
“Bangku Paling Belakang”
Namanya Aluna.
Siswi kelas XI IPA di SMA yang katanya “unggulan”, tapi tetap aja kantinnya jualan cilok.
Aluna itu tipe anak yang nggak pernah cari ribut, tapi hidupnya sering tiba-tiba jadi ribut sendiri. Duduknya selalu di bangku paling belakang. Katanya biar nggak ditunjuk guru. Padahal aslinya? Biar bisa ngamatin semua orang tanpa harus dilihat balik.
Di kelas itu ada Arkan.
Ketua kelas. Tinggi, rapi, ranking 3 besar. Tipe cowok yang kalau jalan di lorong sekolah, anak kelas X langsung auto bisik-bisik.
Aluna dan Arkan nggak pernah benar-benar dekat. Tapi entah kenapa, setiap pembagian kelompok, mereka sering satu tim.
“Lu diem banget sih,” kata Arkan suatu hari, waktu mereka ngerjain tugas biologi tentang ekosistem.
Aluna cuma angkat bahu.
“Ngomong kalau penting aja.”
Arkan ketawa.
“Berarti gue nggak penting?”
Kalimat itu cuma bercanda. Tapi entah kenapa, Aluna kepikiran seminggu penuh.
🏫 Hari yang Bikin Berubah
Semua berubah waktu ada lomba karya tulis antar sekolah se-kota. Sekolah mereka saingan berat sama SMA Negeri 1 — sekolah yang selalu juara tiap tahun.
Wali kelas nunjuk Arkan jadi ketua tim.
Dan tanpa aba-aba, Arkan nunjuk Aluna.
“Dia pinter. Cuma nggak kelihatan aja.”
Aluna kaget.
Selama ini nggak ada yang pernah bilang dia “kelihatan”.
Mereka mulai sering pulang sore. Perpustakaan jadi saksi berantem kecil, debat, sampai ketawa nggak jelas karena capek.
Sampai satu malam, Aluna bilang pelan:
“Kan… kalau nanti kita kalah, lo nggak nyesel pilih gue?”
Arkan berhenti ngetik.
“Nyesel itu kalau gue nggak nyoba. Bukan kalau gue kalah.”
Jawaban sesederhana itu bikin sesuatu di dada Aluna hangat.
📢 Hari Pengumuman
Aula sekolah penuh. Deg-degan seangkatan kayak mau pembagian rapor.
Juara 3… bukan mereka.
Juara 2… bukan juga.
Aluna udah siap kecewa.
“Juara 1 lomba karya tulis ilmiah tingkat kota adalah… SMA Harapan Bangsa!”
Ruangan pecah.
Arkan refleks narik tangan Aluna.
“Gue bilang apa?”
Aluna cuma bisa ketawa sambil nahan air mata.
Bukan karena pialanya.
Tapi karena untuk pertama kalinya, dia merasa bukan cuma “anak bangku belakang”.
🌇 Epilog
Beberapa minggu kemudian, Arkan pindah duduk.
Ke bangku paling belakang.
“Biar adil,” katanya.
“Adil apanya?”
“Kalau lo udah berani maju, sekarang giliran gue yang belajar lihat dunia dari belakang.”
Aluna senyum.
Ternyata, bangku paling belakang nggak selalu soal sembunyi.
Kadang itu cuma tempat nunggu waktu yang tepat buat bersinar.
Gimanaaa? 👀 bagus nggak ??